Biografi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy Pengasuh ke-IV Ponpes Sukorejo Situbondo

loading...
Februari 1980 Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki mewakili Kerajaan Mekkah, Arab Saudi berkunjung ke Sukorejo. Ditemani Kiai As’ad dan beberapa orang penting lainnya, Abuya Sayid Muhammad berbicara panjang lebar dengan Kiai As’ad waktu itu. Ditengah kumpulan orang-orang penting itu, hadir sosok bayi mungil yang berumur sekitar 20 hari. Bayi mungil yang yang masih suci tanpa noda itu sepertinya ikut larut menyimak pembicaraan kumpulan orang-orang besar tersebut.

Pembicaraan yang asyik mansyuk itu berjalan gayung tanpa terasa mereka sudah berbicara beberapa jam dan orok bayi itupun masih setia ditengah mereka yang serius berbicara.

Usai membicarakan tema-tema penting, Kiai As’ad-dengan berharap kepada Allah SWT agar bayi yang sedari tadi mengupingi isi pembicaraan itu menjadi anak yang soleh, bermanfaat bagi ummat-memohon kepada Abuya Sayid Muhammad agar sudi memangku anak itu walau sebentar.


Abuya Sayid mengabulkan permintaan Kiai As’ad. Bayi mungil itupun sudah ada dipangkuan Sang Sayid. Dalam pelukan Sayid, Bayi itu merasa nyaman dan Sayidpun tanpa terasa telah terbuai dalam cinta sang bayi. Karena Sayid telah mabuk cinta pada Bayi mungil itu, Sayidpun merasa ingin memiliki bayi itu.
Tanpa merasa ada beban, Sayid mengutarakan keinginannya untuk segera bisa memiliki dan bercengkrama dengan sang Bayi. “jika anak ini kelak sudah dewasa, biarkan ia bersama saya” ungkap Abuya Sayid Muhammad.

Keluarga, orang tua dan semua orang yang menyayangi bayi mungil tadi itu dengan penuh keihklasan menyetujui dan mengiyakan kehendak Sang Sayid

Ia, Bayi yang sempat berada dipangkuan Sayid itu tidak lain adalah sang putra Mahkota, Putra kesayangan pasangan Nyai Hj. Zainiyah As’ad dengan KH. Dhofier Munawar, yang bernama Ahmad Azaim Ibrahimy.

( Baca juga:  KHR. Dhofier Munawar, Sang Arsitek Keilmuan Pondok Pesantren Sukorejo )

KHR. As’ad Syamsul Arifin, Sang Kakek bayi beruntung itu ternyata sangat serius menanggapi apa yang telah diungkapkan sayid. Bagi Kiai As’ad. Ditangan sayid, cucunya itu kelak akan menjadi anak yang soleh, bermanfaat bagi ummat, lentera bagi kegelapan. Kiai As’ad tidak pernah lelah berpesan kepada siapapun, termasuk ke Ummi bayi tadi, Nyai Hj. Zainiyah As’ad, agar Ahmad Azaim Ibrahimy kecil diserahkan ke Sayid. Keseriusan Kiai As’ad agar cucunya itu diserahkan ke Sayid juga disampaikan Kiai As’ad saat beliau sudah mulai sakit-sakitan. Bulan Agustus, di Rumah Sakit Islam Surabaya, detik-detik akhir dari wafatnya, Kiai As’ad kembali mengingatkan kepada semua orang yang ada disana agar cucunya, Ahmad Azaim Ibrahimy betul-betul diserahkan kepada Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki.

Menjadi Santri Perantau

Pihak keluarga sepakat untuk mengirim Ahmad Azaim Ibrahimy ke Tanah Suci Mekkah. Namun pihak kelurag tidak ingin terburu-buru memasrahkan Azaim kecil ketangan Sayid Muhammad. Pihak kelurga akhirnya memutuskan agar Azaim Ibrahimy menempuh pendidikan ditanah air terlebih dahulu.

Ahirnya, Azaim yang saat itu berusia sekitar 6 tahun disekolahkan di SD Ibrahimy Sukorejo. Di Sekolah Dasar milik kakeknya sendiri, Kiai As’ad inilah Azaim kecil bercengkrama dengan anak-anak seumurnya.

Pada masa-masa menempuh pendidikan dasarnya ini, Azaim kecil tidak jauh beda dengan teman-temannya yang lain. Ia bermain, bergurau, nakal dan lain sebagainya. Pada masa-masa ini, Azaim kecil tidak jarang membuat mangkel Ummi dan kakak-kakaknya. Penyebabnya adalah persoalan klasik bagi anak kebanyakan, seperti merengek-rengek, membanting sesuatu jika merasa kecewa sampai urusan malas mandi.

Masa kanak-kanaknya tanpa terasa berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu. Tahun 1992 iapun lulus SD. Karena masih belum siap pisah dengan teman-teman SD nya, ia kembali melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP Ibrahimy Sukorejo. Masa pendidikannya di SMP milik kelaurganya ini ia tempuh dari tahun 1992-1994. Di SMP Ibrahimy ini ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan SMP nya. Dengan berbagai pertimbangan, Tahun 1994 ia pindah ke SMP Nurul Jadid Paiton sampai lulus SMP tahun 1995.

Usut punya usut, kepindahan Ra Zaim-panggilan karib Ahmad Azaim Ibrahimy-dari SMP Ibrahimy ini ternyata atas inisiatif Ra Zaim sendiri. Alasan Ra Zaim untuk pindah dari sekolah yang notabene adalah milik keluarganya sendiri sangat mencengangkan. Di SMP Ibrahimy ini Ra Zaim ingin segera pindah karena ia merasa guru-gurunya meperlakukannya dengan istimewa. Walau sebagai cucu Kiai As’ad, Ra Zaim ternyata tidak nyaman dengan perlakuan guru-gurunya pada dirinya. Iapun mendesak Sang Ummi untuk mencarikan tempat mondoknya yang baru. Atas hasil Istikhoroh dari Sang Ummi, Ra Zaimpun mantap mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Tidak ingin diperlakukan secara istimewa ditempat barunya ini, Ra Zaim tidak pernah sama sekali menampakkan kalau ia adalah putra KH. Dhofier Munawar. Di Pesantren inilah ia tampil apa adanya. Ra Zaim sering menyapu dan cuci piring di dapur. Usai menyapu dan cuci piring, Ra Zaim langsung pergi tanpa mau menerima imbalan yang ditawarkan kepadanya.

Merasa mendapatkan ketenangan di Pesantren ini, Ahmad Azaim Ibrahimy kembali melanjutkan pendidikan formalnya ditempat yang sama, di Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Nurul Jadid Paiton. Perantauan ilmiyahnya di Paiton yang dimulai tahun 1994 ini berakhir sampai tahun 1998.

Ahmad Azaim Ibrahimy yang sudah menginjak usia dewasa memang sosok pemuda yang haus ilmu pengetahuan.ilmu-ilmu Hikmah yang telah merasuk kalbunya tidak serta merta membuatnya puas. Justru, dengan semua itu ia merasa kurang dan terus ingin menggali keluasan ilmu sang Khaliq.

Maka setelah menempuh pendidikan formalnya, Ra Azaim muda melanjutkan pendidikan non-formalnya di beberapa pesantren. Ia menjadi santri yang rajin berpindah dari pesantren satu kepesantren lainnya. Pada masa-masa sebagai santri rantau ini sekitar enam pondok pesantren yang pernah ia singgahi. Pada tahun 1998-1999 ia mencoba nyantri di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang. Pada tahun 1999 ia kembali mondok beberapa bulan di Pondok Pesantren Al-Ishlah Kampung Saditon Lasem. Pada kurun tahun 2000 saja dua pondok pesantren yang ia singgahi yakni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pondok Pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo. Azaim sosok lelaki haus ilmu-ilmu Tuhan itu kembali menjalani perantaunnya di Ma’had Nurul Haromain. Di Pesantren yang bertempat di Pujon Malang ini ia mondok selama tiga tahun yakni dari tahun 2000-2003.

Nah, pada tahun 2003 inilah, pihak keluarga merasa harus memenuhi janjinya kepada Abuya Sayid Muhammad. Maka pada tahun ini Ra Azaim yang sudah puas mengelilingi Pondok Pesantren-Pondok Pesantren di tanah Air memutuskan untuk berangkat ke Ma’had Rushaifah, Mekkah Al-Mukarramah asuhan Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki. Di Ma’had orang yang pernah menimangnya saat masih Bayi ini, Ahmad Azaim Ibrahimy mampu menambah pundi-pundi keilmuannya.

Tentang pendidikannya di Ma’had yang sekarang ini diasuh oleh Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki akan dibahas secara khusus. Sebelumnya, kami akan sedikit membahas Pra dan Pasca kelahirannya. Pada bagian ini juga akan dibahas masa-masa kecilnya.

Pra dan Pasca kelahiran Ahmad Azaim Ibrahimy

Tanda-tanda kalau Ra Zaim akan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dan sebagai tokoh panutan Ummat sudah terlihat sebelum kelahirannya. Bahkan sebelum ada dirahim Sang Bunda, tanda-tanda itu sudah nampak. Hal itu berawal dari mimpi Sang Bunda, Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Saat itu Nyai Zainiyah masih belum mengandung Razaim bermimpi ayam jantan terbang mengelilingi sekitar pesantren. Ayam jantan berbulu emas kuning kemerah-merahan itu terus terbang mengelilingi Pesntren seraya berkokok dengan ucapan “Subahanal Malikil Kuddus”. Lafadz suci itu diucapkan ayam jantan sampai tiga kali.

Keesokan harinya, Nyai Zainiyah menceritakkan mimpinya kepada suami tercinta, Kiai Dhofier. Mendengar cerita dari sang istri Kiai Dhofier berdo’a akan memiliki anak laki-laki. Tidak lama dari mimpi tersebut, Nyai Zainiyah mengandung. Dan tidak lain yang ada dalam kandungan itu adalah Ahmad Azaim Ibrahimy.

Selama mengandung Putranya ini, Nyai Zainiyah tidak pernah merasa kalau ia lagi mengandung, pasalnya, kandungan tersebut tidak seperti yang ia rasakan saat mengandung anak-anaknya yang lain. Bentuk kandunganyapun seolah-olah didalamnya tidak berisi bayi.

Nyai Zainiyah merasa mengandung hanya saat sujud. Saat sujud itulah Nyai Zainiyah merasa ada yang bergerak-gerak didalam rahimnya. Setelah sujud, perasaan itu hilang kembali. Tanda-tanda kehamilan diluar sujud tidak ada sama sekali. Karena merasa tidak hamil, Nyai Zainiyah tidak pernah mau memeriksa kandungannya. Nyai Zainiyah takut kalau-kalau dokter memvonis kalau ia terserang penyakit Tumor. Maka dengan alasan itu Nyai Zainiyah tidak pernah memeriksa kandungannya.

25 Januari 1980 Ahmad Azaim Ibrahimy dilahirkan. Orok bayi yang sebelumnya dianggap oleh sang bundanya adalah penyakit tumor ternyata berbuah bayi laki-laki yang lucu. Bayi lucu itu oleh Umminya diberi nama Muhammad Imdad.

Kiai As’ad yang tau kalau bayi yang keluar dari rahim putrinya adalah bayi lelaki girangnya bukan kepalang. Sambil keluar masuk rumah, Kiai As’ad tiada henti mengucapkan kalimat Tahmid sebagai wujud syukurnya kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahinya cucu laki-laki. Menurut Nyai Zainiyah, Kiai As’ad tidak pernah segirang seperti itu saat cucu-cucunya yang lain dilahirkan. Baru kali itulah Kiai As’ad sangat senang atas kelahiran cucunya.

Bayi lelaki yang bernama Muhammad Imdad ini diasuh oleh Nyi Siti. Bersama ibu asuhnya inilah, Muhammad Imdad lebih banyak menghabiskan hari-harinya. Nyi Siti juga sangat menyayangi anak asuhnya itu. Pun halnya dengan anak tersebut, sangat menyayangi ibu asuhnya. Imdad tidak akan pernah tertidur sebelum dininabobokkan oleh Nyi Siti. Dan apapun yang diingini anak asuhnya, Nyi Siti tidak pernah berpikir untuk menolaknya. Pada masa-masa inilah Imdad kecil sangat nakal. Ia sering melempar sesuatu jika merasa kecil. Nyi Siti selaku ibu asuhnya kerap kali menerima bugem atau pukulan dari anak asuhnya.

Pernah suatu ketika, Imdad kecil melempar batu kearah Madrasah Putri. Gara-gara Nyi Siti saat itu sedang ngajar disebuah kelas. Ia meminta Nyi Siti berhenti ngajar. Saat Imdad ngamuk datanglah Kiai As’ad.

Mengetahui cucunya ngamuk seperti itu, Kiai As’ad bertanya sebab cucunya ngamuk. Nyi Siti menjawab pertanyaan Kiai As’ad bahwa Imdad ngamuk karena dirinya lagi ngajar santri. Kiai As’ad dengan nada bergurau meminta agar nama Muhammad Imdad dirubah. Saat itu Kiai As’ad menjelaskan kepada Nyi Siti kalau nama cucunya itu masih Muhammad Imdad akan sangat nakal dan sulit diatur. Maka atas permintaan Kiai As’ad, Nyai Zainiyah merubah nama Muhammad Imdad menjadi Ahmad Azaim Ibrahimy. Ahmad Azaim Ibrahimy resmi menjadi nama dari cucu Kiai As’ad itu sekitar ia baru berumur 8 tahun.

Kesenangan Ra Zaim saat kecil adalah main tembak-tembakan. Profesi yang kerap dilakukaan para tentara itu sangat digandrungi Ra Zaim kecil. Sehingga tidak jarang ia berlagak seperti tentara. Seperti memegang bedil-bedilan sambli bersembunyi seolah-olah sedang mengintai atau menghindar dari musuh. Dan hal seperti ini tidak jarang ia peragakan. Pernah suatu ketika saat Kiai As’ad menerima tamu Negara yaitu Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), LB. Moerdani. Mengetahui kalau yang menjadi tamu kakeknya itu adalah seorang Tentara, dengan sigap Ra Zaim berlari menuju Kiai As’ad seraya berteriak “pak tembak, pak tembak (sebutan Ra Zaim kepada tentara)”. Ra Zaim yang ingin melihat secara langsung Jenderal TNI tersebut langsung duduk dipangkuan sang kakek. LB. Moerdani yang belum mengetahui siapa bocah kecil itu langsung bertanya kepada Kiai As’ad. “siapa anak ini Kiai” tanya Pak Moerdani.

Kiai As’ad menceritakan kepada tamunnya yang jenderal itu kalau anak yang duduk dipangkauannya itu adalah cucunya sendiri. “do’akan cucu saya satu-satunya ini ya pak, Insya Allah ini akan menjadi pengganti Sukorejo, akan meneruskan perjuangan saya” ujar Kiai As’ad kepada LB. Moerdani. Kiai As’ad dan LB Moerdani saat itu sedang berbicara empat mata. Tidak ada seorangpun yang ikut berbicara selain mereka berdua.

Nyi Siti yang bermaksud mengambil anak asuhnya merasa terkejut ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan Kiai As’ad. Nyi Siti langsung menceritakan kepada Nyai Zainiyah tentang apa yang baru saja ia dengar langsung. Nyai Zainiyah tidak terlalu menggubris apa yang diceritakan Nyi Siti itu. Karena setahu Nyai Zainiyah, Kiai Fawaid sudah pasti menjadi pengganti Abahnya.

Ra Zaim ditinggal Wafat oleh Abahnya, KH. Dhofier Munawar ketika ia berumur sekitar 5 tahun. Bocah kecil itu sepertinya sadar kalau abahnya telah pergi untuk selama-lamanya. Mengetahui abahnya telah wafat, iapun terdiam seribu bahasa dan hanya memandangi jenazah abahnya. Karakternya yang rewel dan banyak tingkah saat itu tidak nampak sama sekali. Ia seperti ikut menangisi kepergian abahnya.

Karakter keras kepala yang dimiliki Ra Zaim mulai bekurang saat duduk dibangku SMP. Karakter nakalnya berubah secara perlahan-lahan menjadi sosok yang Tawaddu’, penurut dan tak banyak berbicara. Ia dikenal rajin dan giat. Hal itu paling tidak bisa terlihat ketika ia sering “pindah-pindah” mondok. Ia betul-betul menjadi santri perantau, pindah dari pondok yang satu menuju pondok yang lain.

Ra Zaim yang sudah mulai menemukan jati dirinya ini, selain tampil sebagai sosok yang giat dan haus ilmu-ilmu pengetahun, juga sebagai sosok yang perhatian, berjiwa sosial dan penyayang terhadap sekitarnya.

Jiwa kepemimpinannya juga sudah mulai tanpak. Terbukti, saat liburan dari tempat mondoknya, ia pergunakan untuk mendirikan organisasi-organisasi kecil-kecilan. Dintaranya adalah Forum Komunikasi Santri Situbondo (Foksasi) dan Ikatan Silaturrahmi (Iksi). Foksasi ini sebagai wadah bagi santri-santri Situbondo yang nyantri di Sukorejo. Sedangkan Iksi ini adalah organisasi keluarga. Iksi ini sebagai wadah mempersatukan kembali kelurga besar pondok pesantren. Karena menurut hemat Ra Zaim, banyak Ahlul Bait yang sudah mulai menjauh dari pesantren. Nah, Iksi inilah yang bertugas mendatangi keluarga-keluarga yang masih ada hubungan darah dari pintu kepintu. Sampai-sampai, Iksi ini pernah berkunjung ke Pulau Madura hanya untuk mempersatukan kembali hubungan kekeluargaan diantara mereka. Perlahan namun pasti, Organisasi keluarga yang diketuai langsung oleh Ra Zaim ini mulai membuahkan hasil. Keluarga yang sebelumnya tidak “pede”bergaul dengan keluarga Dhalem mulai merapat kembali. Keluarga Dhalempun mulai menyentuh mereka.

Sebelum mendirikan Iksi ini, Ra Zaim terlebih dahulu minta izin kepada Umminya. Atas saran Umminya, Ra Zaim kemudian meghadap Pengasuh, KHR. Ach. Fawaid As’ad. Dan dihadapan Kiai Fawaid, Ra Zaim mengutarakan keinginannya untuk mendirikan Iksi. Atas restu Kiai Fawaid, Ra Zaimpun mantap mendirikan Iksi.

Berangkat ke Tanah Suci Mekkah

Sejak menyelesaikan pendidikan formalnya di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton (1994-1998), Ra Zaim menjadi santri perantau. Ia kerap pindah dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain. Ia mulai pindah dari pesantren yang satu menuju pesantren yang satunya lagi pada kurun tahun 1998-2003.

Nah, perantauan Ilmiahnya terasa semakin lengkap ketika ia berangkat ke Ma’had Rushaifah pada tahun 2003. Dengan menggunakan Paspor TKI, ia berangkat menuju tanah suci. Berbekal restu Sang Ummi, Ra Zaim mantap menuju Ma’had yang saat ini diasuh Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki.

( Baca juga: Karomah As Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al Hasani)

Sesampainya di Kota Kelahiran Nabi Muhammad SAW itu, Ra Zaim langsung menghadap Abuya Sayid Muhammad. Saat itu, orang yang pernah menggendongnya itu sudah mulai sakit-sakitan. Baru bertemu dengan Sayid, Ra Zaim langsung diminta membantu sayid. Ia tidak diberikan keluar oleh Sayid.

Minggu-migu pertama di Kota Mekkah, Ra Zaim sering diperintahkan Sayid untuk mengantarkan makanan berbuka puasa ke Masjidil Haram. Mengantar makanan berbuka puasa inilah yang dilakukan pada Bulan Ramadhan setiap harinya. Sekitar satu tahun di Mekkah, Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki wafat. Otomatis beliau diganti oleh putranya yaitu Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki.

Selain sebagai santri yang cerdas, Ra Zaim juga dikenal sangat dekat dengan Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki. Ia sering diminta menjadi penerjemah isi pidato Sayid Ahmad. Jika ada jama’ah haji Indonesia yang datang ke Sayid, bisa dipastikan Ra Zaimlah yang diplot sebagai penerjemah. Ra Zaim bukan hanya Mutarajjim (penerjemah) dari sayid saja, akan tetapi sering menjadi Mutarajjim jika ada tamu-tamu dari negera lain seperti Iraq, Afghanistan dll.

Sebelum menjadi penerjemah, Ra Zaim sebelumnya dipercaya sebagai kameramen. Jika ada acara-acara Sayid, maka Ra Zaim yang mengabadikan acara tersebut. Namun pekerjaan sebagai pengambil gambar tersebut saat ini memang sudah tidak dilakukan. Sudah ada santri lain yang menggantikan posisinya. Dengan demikian Ra Zaim lebih sering menjadi Mutarajjim.

Memang, di Ma’had Rushaifah Ra Zaim selain menuntut ilmu juga mengabdikan dirinya kepada gurunya. Tidak jarang ia menyapu halaman, membersihkan sekitar Ma’had. Meski tergolong darah biru, pekerjan-pekerjaan meyapu bukan sesuatu yang asing bagi Ra Zaim. Pasalnya, pekerjaan tersebut sudah sering dilakukanya saat ia masih nyantri di Nurul Jadid. Tentang kealimanya memang sudah tidak diragukan. Alim, wajar saja bagi cucu Kiai As’ad ini. Abahnya, KH. Dhofier Munawwar siapa yang tidak tau kealimannya. Cucu Kiai Ruham yang wafat tahun 1985 ini dikenal sebagai kamus berjalan. Sehingga besar kemungkinan kalau kealiman Kiai Dhofier berpindah kepada putranya yang tidak lain adalah Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Lantas kapan ia akan resmi menjadi pemegang estafet kepemimpinan Salafiyah? Tentang kepastian kapan kepulangannya ke Tanah Air masih belum bisa dipastikan secara pasti. Keputusannya tetap ada pada Sayid Ahmad.

Namun dari keterangan Nyai Hj. Uswatun Hasanah, kakak kandung Ra Zaim sendiri mengatakan pernah melakukan komunikasi dengan adiknya itu. Saat dihubungi, Ra Zaim waktu itu sedang mengurus surat-surat kepulangannya. Yang jelas, sebagai santri yang patuh kepada Sang Guru, Ra Zaim akan menyerahkan sepenuhnya kepada Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki*.

Sumber :
http://www.iksass.net/blog/2015/01/mengenal-lebih-dekat-sosok-pengasuh-iv-khr-ahmad-azaim-ibrahimy/
http://bejomakmurpratama.blogspot.co.id/2015/09/mengenal-lebih-dekat-sosok-pengasuh-iv.html

loading...
Biografi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy Pengasuh ke-IV Ponpes Sukorejo Situbondo Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Agenda Guru

1 komentar:

ikha adjie mengatakan...

Subhannallah.....

Posting Komentar